Jumat, 21 Juni 2024

FIKIH: Sholat Fardhu Lima Waktu

 Shalat Fardhu Lima Waktu

1. Pengertian Shalat Fardhu


Secara bahasa, shalat adalah berso’a atau doa meminta kebaikan. Pengertian ini selaras dengan kandungan ayat yang  artinya: “Dan berdoalah (wa shalli) untuk mereka. Sesungguhnya doamu (shalataka) itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka” QS. At-Taubah (9): 103. Menurut istilah, shalat merupakan semua perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam. Shalat yang diwajibkan sebanyak lima waktu sehari-semalam, yang biasa kita kenal dengan nama shalat Subuh, Dluhur, Ashar, Maghrib, dan shalat Isya’. Shalat fardlu wajib hukumnya bagi setiap orang muslim, baik laki-laki dan perempuan yang berakal dan telah memasuki masa baligh.

2. Syarat Wajib Dan Syarat Sah Shalat

Syarat wajib merupakan ketentuan-ketentuan yang berakibat pada diwajibkannya melaksanakan shalat. Tidak terpenuhinya salah satu persyaratan akan menggugurkan hukum wajibnya shalat. Bagi yang belum memenuhi persyaratan, ada dua hukum bila tetap melaksanakan shalat, yaitu tetap sah shalatnya dan tidak sah shalatnya. Syarat sah adalah ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi sebelum pelaksanaan shalat. Tidak terpenuhinya salah satu persyaratan, maka akibatnya shalatnya tidak sah.

Jika kita bandingkan, terdapat ketentuan yang menjadi syarat wajib dan sekaligus syarat sahnya shalat, seperti beragama Islam dan tidak hilang akalnya. Terdapat pula ketentuan yang hanya menjadi syarat wajibnya shalat atau sebaliknya. Contohnya, menutup aurat, menghadap kiblat, dan lain-lain hanya menjadi syarat sah shalat saja. Sedangkan telah memasuki masa baligh hanya merupakan syarat wajibnya shalat semata.

3. Perkara-Perkara Yang Membatalkan Shalat 

Shalat fardlu seseorang akan menjadi batal dan tidak sah dengan sendirinya, jika terjadi perkara-perkara yang membatalkan. Diantaranya: 

Perkara-Perkara Yang Membatalkan Shalat 

1. Datangnya hadats kecil maupun besar ditengah-tengah shalat. 

2. Menempelnya najis yang tidak dapat dimaafkan pada badan, pakaian, dan tempat shalat, kecuali langsung disingkirkan. 

3. Mengeluarkan ucapan lebih dari dua huruf dengan sengaja untuk berbicara atau satu huruf, namun sudah bisa dipahami. Contoh: Jangan berdiri!, “duduk!”, dan seterusnya. 

4. Tertawa lebar ketika dalam shalat. 

5. Makan dan Minum meskipun hanya sedikit. 

6. Murtad ketika dalam shalat. 

7. Gila ketika dalam shalat. 

8. Berpaling dari arah kiblat. 

9. Tersingkapnya pakaian, sehingga terbuka aurat. 

10. Meringkas rukun shalat, seperti ruku’ dan i’tidal dijadikan satu sehingga dari ruku’ langsung sujud. 

11. Ragu terhadap niat yang telah dilakukan, misalnya, dhuhur atau ashar. 

12. Mengubah niat dari shalat fardhu menjadi shalat lainnya, misalnya, shalat dhuhur niatnya diganti dengan shalat gerhana matahari. 

13. Niat keluar dari shalat sebelum sempurna semua rukun-rukunnya. 

14. Bimbang dalam shalatnya, apakah akan meneruskan atau membatalkannya. 

15. Menggantungkan pembatalan shalat pada suatu perkara. Contoh, dalam shalat mengatakan “jika haidh datang, saya akan membatalkan shalat”. 

16. Sengaja meninggalkan salah satu rukun shalat. 

17. Sengaja mengulang-ulang rukun dengan tujuan bersenda gurau. 

18. Mencampur aduk rukun shalat, contoh mendahulukan rukun tertentu dan mengakhirkan yang lain di luar ketentuan. 

19. Bermakmum pada orang yang shalatnya tidak sah, seperti kepada orang kafir. 

20. Sengaja memanjangkan rukun yang pendek. 

21. Mendahului atau tertinggal dua rukun yang berupa perbuatan (fi’li) yang dilakukan imam tanpa udzur. 

22. Mengucapkan salam sebelum waktunya. 

23. Mengucapkan takbiratul ihram kedua kalinya dengan niat memperbaruhi shalat. 

24. Dengan sengaja kembali duduk tasyahud awal pada saat sudah dalam kondisi berdiri.

4. Rukun Shalat Fardhu

Rukun shalat adalah bagian pokok dari shalat itu sendiri. Artinya perbuatan dalam shalat yang harus dikerjakan, jika ditinggalkan shalatnya menjadi tidak sah. Menurut mazhab Syafi’i, rukun shalat ada tiga belas yaitu sebagai berikut : 

1) Niat (wajibnya didalam hati, apabila dilafalkan sunnah) 

2) Berdiri (jika mampu) 

3) Takbiratul ihram (takbir awal shalat) 

4) Membaca surah al-Fatihah (makmum membacanya setelah bacaan imam) 

5) Rukuk dengan thuma’ninah (dengan sikap tenang sejenak) 

6) Iktidal dengan thuma’ninah 

7) Sujud dengan thuma’ninah 

8) Duduk diantara dua sujud dengan thuma’ninah 

9) Duduk tasyahud awal dan akhir dengan thuma’ninah 

10) Membaca tasyahud 

11) Membaca shalawat Nabi Muhammad Saw. 

12) Membaca salam yang pertama sambal menoleh ke kanan 

13) Tertib urutan rukunnya

5. Sunnah Shalat Lima Waktu

Sunnah-sunnah shalat, adalah ucapan dan gerakan-gerakan shalat yang tidak termasuk dalam rukun shalat, tetapi merupkan bagian dari ibadah shalat. Sunnah shalat dibedakan menjadi dua macam, yaitu Sunnah ab’ad dan Sunnah hai’at.

a. Sunnah Ab’adl Dalam Shalat Fardlu 

Sunnah ab’ad adalah Sunnah yang apabila tidak dikerjakan harus mengganti dengan sujud sahwi. Adapun hal-hal yang termasuk Sunnah ab’ad adalah sebagai berikut : 

1. Membaca dan duduk tasyahud awal. Tasayahud ini hanya berlaku pada shalat yang jumlah rakaatnya     lebih dari 2 rakaat, seperti maghrib, isya’, dhuhur, dan ashar. Dalam tasyahud awal disunnahkan membaca doa yang sama dengan tasyahud akhir tanpa shalawat kepada Nabi. 

2. Membaca shalawat kepada Nabi pada tasyahud awal. 

3. Membaca shalawat kepada keluarga Nabi dalam tasyahud akhir. 

4. Berdiri dalam qunut dan membaca do’anya pada rekaan kedua pada posisi i’tidal dalam shalat subuh.

b. Sunnah Hai’ah Dalam Shalat Fardlu 

1. Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, ruku’, bangun dari ruku’, dan bangun dari tasyahud awal. Mengangkat kedua tangan hingga ujung jari-jari melebihi tingginya telinga, dengan kedua ibu jari di bawah daun telinga, dan kedua telapak tangannya melebihi tinggi kedua bahu. Mengangkat tangan juga sambil memulai takbir dan tasmi'. 

2. Memiringkan ujung-ujung jari ke arah kiblat sambil merenggangkannya pada saat mengangkat tangan. 

3. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan menempatkannya di pertengahan antara dada dan pusar. 

4. Membaca do’a iftitah atau tawajjuh setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama. 

5. Membaca ta’awudz atau istia’adzah. Ta’awudz dibaca sebelum membaca surah dan dengan suara yang pelan. 

6. Mengeraskan bacaan pada tempatnya. Termasuk bacaan keras adalah pada waktu shalat subuh, dua rakaat pertama shalat Isya, dua rakaat pertama shalat Maghrib, dan dua rakaat shalat subuh. 

7. Membaca pelan pada tempatnya. Termasuk bacaan yang dipelankan adalah semua shalat selain yang telah disebutkan pada nomor 6 (enam). 

8. Mengucapkan “Amin” ( أمين ) setelah selesai membaca surat alFatihah.Pengucapan amin dilakukan dengan suara keras dalam shalat jarhriyah, dan dengan rendah atau pelan dalam shalat sirriyah. 

9. Membaca surat setelah surah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama bagi imam atau orang yang shalat sendirian. 

10. هلل أ أ (ketika setiap kali hendak ruku’ dan bangkit dari selain ruku’, kecuali takbiratul ihram yang wajib hukumnya. 

11. Meletakkan kedua telapak tangan pada kedua lutut pada saat posisi ruku’ sambil merenggangkan jari-jari. 

12. Membaca tasbih sebanyak tiga kali dalam ruku’. Sedangkan bacaannya adalah Subhana Rabbaiyal ‘Adzimi dengan tambahan wa bihamdihi sebagai penyempurna. Bacaan lengkapnya adalah: ح ْم د ه وب ع ظْي م ْ ْي ال سْب حا ن رب Artinya: “Maha Suci Tuhanku yang Agung dan dengan memuji-Nya”. 

13. Mengucapkan kalimat tasmi’ ketika bangkir dari ruku’. Sedangkan jika dalam posisi sebagai makmum, ketika mendengar imam membaca tasmi’. 

14. Ketika hendak sujud, maka yang diletakkah ke lantai terlebih dulu adalah kedua lutut, kemudian kedua tangah, dan disusul dahi dan hidung. 

15. Membaca tasbih dalam sejud sebanyak tiga kali, yaitu: subhana Rabiiyal A’la” dengan menambahkan wa bihamdihi, sehingga bacaan lengkapnya sebagai berikut: سْب ح ْم د ه ح ْعل ى وب ْأل ْي ا رب ا ن Artinya: “Maha Suci Allah, Tuhanku Yang Luhur dan dengan memujikan-Nya”. 

16. Meletakkan kedua tangan di hadapan kedua bahu dalam sujud dengan jari-jari merapat menghadap kiblat. 

17. Bagi laki-laki dan sujud dan ruku’ untuk menjauhkan lengannya dari kedua sisi lambung, dan mejauhkan kedua paha dari perut. Bagi perempuan, merapatkan anggota-anggota tersebut karena posisi itu lebih menutup bagi wanita. Dan disunnahkan melebarkan kaki satu jengkal. 

18. Disunnahkan untuk membaca doa dalam posisi duduk diantara dua sujud, dengan membaca: ي ْي وا ْع ف عن ْي و عاف ن ْي وا ْه دن ن ْي وا ْر زقْ ْعن ْي وا ْرف ْي وا ْجب ْرن ْي وا ْر ح ْمن ر ب ا ْغ ف ْر ل Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, berikanlah rahmat kepadaku, berikanlah kebaikan kepadaku, angkatlah derajatku, berikanlah rejeki, berikanlah petunjuk, dan maafkanlah kesalahanku”. 

19. Duduk iftirasy dalam duduk diantara dua sujud dan duduk tasyahud awal, yaitu dengan menduduki kaki kiri dan menegakkan kaki kanan. 

20. Duduk istirahat dengan posisi iftirasy setelah sujud kedua. Duduk istirahat ini ukurannya sama dengan thuma’ninah dalam shalat lamanya. 

21. Menopang kedua tangan ke lantau ketika hendak bangkit dari duduk atau dari sujud karena dapat membantu menciptakan kekhusyu’an shalat. 

22. Mengangkat kedua tangan ketika bangkit dari tasyahud awal.. 

23. Duduk tawarruk pada tasyahud akhir, yaitu dengan menempelkan pinggul sebelah kiri pada lantai dan menegakkan kaki kanan. Namun ketika hendak melakukan sujud sahwi, maka melakukan duduk iftiras. 

24. Meletakkan kedua tangan pada kedua paha dengan menggenggam jari-jari tangan kanan, kecuali jari telunjuk yang akan digunakan sebagai isyarat ketika mengucapkan Illallah, namun tanpa menggerak-gerakkannya. Sedangkan jari-jari tangan kiri, posisinya lurus merapat. 

25. Pandangan mata tidak melampaui jari telunjuk. 

26. Memohon perlindungan dari siksa neraka setelah selesai membaca tasyahud akhir. م ما ت و م ْن وال م ْحي ا ر و م ْن ف تْن ة ال ْب ا ب الق و م ْن عذ ا ب ج هنَّم ك م ْن عذ ب عْوذ ْي أ ن هَّم إ َّ ل ْ ا ل ل الد َّجا م سْيح ش ر ف تْن ة ال “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, siksa kubur. Aku berlindung dari fitnah hidup, dan mati serta dari kejahatan Dajjal”. 

27. Mengucapkan salam kedua. 

28. Menolehkan wajah ke kanan dan ke kiri ketika mengucapkan salam. Ke kanan pada salam pertama dan ke kiri pada salam kedua hingga pipi kanan dan kiri terlihat oleh orag di belakangnya. 

29. Memakai siwak ketika hendak melaksanakan shalat, meskipun dengan kain tetapi tidak dengan jari. 

30. Khusyu’ dalam shalat, yaitu menghadirkan hati dan menenangkan anggota tubuh dengan perasaan bahwa melaksanakan shalat sedang berada di hadapan Allah Swt. 

31. Menghindari gerakan atau perbuatan yang tidak perlu. Contoh memain-mainkan janggutnya dalam shalat. 

32. Menghayati bacaan al-Qur’an yang dibaca atau di dengar dalam shalat, karena dapat membantu terciptanya shalat khusyu’. 

33. Menghayati bacaan dzikir karena disamakan dengan bacaan al-Qur’an. 

34. Memasuki pelaksanaan shalat dengan giat, semangat, dan menjauhkan hati dari kesibukan dunia. 

35. Mengingatkan kesalahan imam, dengan membaca tasbih bagi laki-laki dan bertepuk satu tangan bagi perempuan. 


Simak Video Berikut!



AKIDAH AKHLAK: Iman Kepada Hari Akhir

 Iman Kepada Hari Akhir

Peristiwa Yang Berhubungan Dengan Hari Akhir

Alam-alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir adalah alam-alam gaib yang harus dilewati manusia setelah kiamat datang yang dimulai dari alam barzakh sampai hari pembalasan (surga atau neraka). 



1. Alam Barzakh 


Yaitu alam kubur tempat manusia meninggal dunia. Di dalam alam kubur jika manusia yang telah meninggal dunia diperlihatkan dengan kedamaian, kesejukan, keindahan, dan segala kebahagiaan-kebahagian lainnya, maka pertanda manusia itu di hari akhir kelak akan masuk surga. Tetapi sebaliknya jika manusia yang telah meninggal dunia di alam kubur ditampakkan oleh berbagai macam penderitaan dan siksaan, maka menandakan di akhirat manusia itu akan masuk neraka. 

2. Yaumul Ba’ats 


Yaitu hari bangkit manusia dari alam kubur. Pada hari itu semua manusia yang telah meninggal dunia jasadnya diutuhkan lagi seperti sedia kala meskipun sudah meninggal dunia berabad-abad lamanya. Lalu manusia digiring ke suatu tempat yang disebut Padang Mahsyar. 


3. Yaumul Hasyr


Yaitu hari digiringnya manusia ke Padang Mahsyar setelah dibangkitkan dari kubur. Di Padang Mahsyar manusia dikumpulkan untuk dimintai pertanggungjawaban amal perbuatannya selama hidup di dunia. Malaikat pencatat perbuatan manusia akan menunjukkan kepada masing-masing orang atas izin Allah Swt. Tidak ada catatan yang salah apalagi catatan bohong karena selalu diawasi oleh Allah Swt. 

4. Yaumul Hisab 


Yaitu hari dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar untuk dihitung amal perbuatannya selama hidup di dunia. Semua anggota tubuh akan bicara sendiri tanpa disuruh dan tanpa ditanyai. Malaikat sebagai pengawas ketika semua anggota tubuh bicara untuk mempertanggugjawabkan perbuatan manusia yang memilikinya. 



5. Yaumul Mizan 

Yaitu hari dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar untuk ditimbang amal perbuatannya selama hidup di dunia. Sebagaimana saat dihitung amal perbuatan manusia, semua anggota tubuh juga berbicara sendiri-sendiri melaporkan atas apa perbuatan yang telah dilakukan oleh si empunya selama hidup didunia. 

6. Sirath 


Yaitu jalan menuju surga. Sirath sering disebut sebagai jembatan sirathal mustaqim. Bagi manusia yang beramal baik berjalan lewat sirath akan sampai ke surga. Bagi yang beramal buruk jalannya tidak sampai ke surga tetapi jatuh ke jurang neraka. 



7. Yaumul Jaza (Hari pembalasan) 

a. Surga 


Surga adalah sebutan sebuah tempat yang penuh kenikmatan dan kebahagiaan di hari akhir. Surga disediakan bagi orang-orang yang takwa kepada Allah SWT. Gambaran kenikmatan di surga sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt. : QS. Hud: 108 

Artinya: Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya (QS. Hud: 108). 

b. Neraka 


Neraka adalah sebutan sebuah tempat yang penuh penderitaan dan siksaan di hari akhir. Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang durhaka dan mengingkari hukumhukum Allah Swt.. Gambaran penderitaan di neraka diterangkan dalam firman Allah SWT. Q.S. Hud: 106 َ


Artinya: Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih) (QS. Hud: 106). 

Tanda-Tanda Terjadinya Hari Akhir

1. Tanda-tanda kiamat Suhgra 

Maksudnya tanda-tanda hari akhir yang dapat kita saksikan di dunia ini, antara lain: 

a. Hancurnya dunia dan banyaknya kemaksiatan 

b. Banyak orang tidak tahu malu sehingga berbuat maksiat tidak merasa dosa/ salah/ malu 

c. Banyak masjid megah tapi hanya sedikit jamaah 

d. Semakin banyak generasi muda dalm pergaulan bebas 

e. Banyak yang durhaka kepada orang tuanya 

f. Semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam pergaulan bebas 

g. Ilmu agama sudah diabaikan 

h. Korupsi meraja lela dan hidup bermegah-megan 

i. Semakin sedikit perlaku orang yang Qur’ani 

j. Banyak berdatangnan di majlis ta’lim tetapi yang didapat hanya kumpul-kumpul saja 

2. Tanda Kubra (Tanda-tanda kiamat kubra) 

Maksudnya tanda-tanda yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt. dan akan terjadi pada saat mendekati hari akhir, antara lain: 

a. Turunnya Dajjal 

b. Munculnya binatang melata yang aneh 

c. Matahari terbit dari sebelah barat (tempat terbenamnya, berlawanan dengan tempat terbitnya) 

d. Keluarnya gas beracun dari semua sudut bumi 

Perilaku Dalam Kehidupan Sehari-Hari Yang Mencerminkan Beriman Kepada Hari Akhir

1. Menjaga pikiran, sikap, dan perilaku dari akhlak tercela seperti; su’uzan, hasad, dendam namimah, tamak , dan sebagainya, Sebaliknya memupuk perilaku dari akhlak terpuhi seperti: husnuzan, bertanggungjawab, amanah, dan sebagainya. 

2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Memantapkan keimanan terhadap Rukun Iman, beribadah dan beramal shalih berdasarkan Rukun Islam kecuali haji bagi yang mampu saja. 

3. Memperbanyak zikir dan bershalawat Berzikir untuk mengingat Allah Swt. dan mohon ampun atas kesalahan-kesalahan. Bershalawat untuk menyanjung dan mendoakan Rasulullah Muhammad Saw. sebagai rasa kecintaan kepada Nabi Saw. dan agar kelak kita mendapat syafaat di hari kiamat. 

4. Selalu membaca Al-Qur’an Sebagai orang yang beriman kepada hari akhir semestinya selalu membaca dan mengkaji ayat-ayat al-Qur’an selain untuk menambah pahala juga sebagai pengingat kelak dunia dan seisinya akan berakhir dan al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia juga bercerita tentang hari akhir. 

5. Bergaul dengan orang-orang shalih. Dengan siapa kita berteman dapat menandakan akhlak kita seperti apa. Jika kita berteman dengan orang shalih berarti kita termasuk orang yang shalih. Begitu sebaliknya. Berarti teman dapat membawa kita ke arah baik atau buruk. Maka hati-hati dalam memilih teman. 

Simaklah Video Berikut!







Sejarah Kebudayaan Islam: Kelahiran Nabi Ibrahim

 

Kelahiran Nabi Ibrahim A.S

Nabi Ibrahim a.s dilahirkan pada tahun 2295 SM di negeri Mausul  , di tengah-tengah masyarakat jahiliyah yang menyembah berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu. Ayah beliau bernama Azar  , yang merupakan seorang seniman yang ahli membuat patung-patung tersebut. Beliau juga masih keturunan dari Sam bin Nuh  , yang merupakan anak dari Nabi Nuh a.s.

Pada masa itu, negeri Mausul dikuasai oleh Raja Namrud  , yang sombong dan angkuh, bahkan mengaku sebagai tuhan. Raja Namrud mendapat mimpi buruk bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang akan meruntuhkan kerajaannya dan menghancurkan tuhan-tuhannya . Karena itu, ia memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di negerinya.

Allah SWT melindungi ibu nabi Ibrahim a.s dari kekejaman Raja Namrud, sehingga kehamilannya tidak diketahui oleh orang-orang . Beliau melahirkan nabi Ibrahim a.s di sebuah gua yang tersembunyi, dan menyusuinya di sana selama beberapa tahun. Kemudian, beliau membawanya pulang ke rumahnya dan menitipkannya kepada ayahnya.

Masa Kecil Nabi Ibrahim A.S

Nabi Ibrahim a.s adalah seorang anak yang cerdas dan berakal sehat sejak kecil. Beliau selalu bertanya-tanya tentang patung-patung yang dibuat oleh ayahnya dan disembah oleh kaumnya. Beliau tidak percaya bahwa patung-patung itu dapat memberi manfaat atau mudarat kepada manusia. Beliau juga tidak percaya bahwa Raja Namrud adalah tuhan, karena ia hanya seorang manusia biasa.



Beliau mulai mencari tahu tentang Tuhan yang sebenarnya, yang menciptakan langit dan bumi, matahari dan bulan, bintang-bintang dan segala makhluk. Beliau mengamati alam semesta dengan teliti dan mendapati bahwa semua ciptaan Allah SWT bersifat fana dan berubah-ubah. Beliau menyadari bahwa Tuhan yang haq adalah satu, yaitu Allah SWT, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada sesuatu yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ujian Nabi Ibrahim A.S

Nabi Ibrahim a.s mendapat banyak ujian dari Allah SWT dalam perjuangannya menyebarkan risalah tauhid. Di antara ujian-ujian tersebut adalah:

  • Ujian api: Ketika nabi Ibrahim a.s menghancurkan semua patung-patung di kuil kaumnya kecuali patung terbesar, sebagai bukti bahwa patung-patung itu tidak berdaya . Kaumnya marah besar dan memutuskan untuk membakar nabi Ibrahim a.s hidup-hidup di dalam api yang besar   . Namun, Allah SWT menyelamatkan beliau dengan menjadikan api itu dingin dan damai bagi beliau   .
  • Ujian hijrah: Ketika nabi Ibrahim a.s tidak berhasil mengajak kaumnya beriman kepada Allah SWT, beliau memutuskan untuk hijrah meninggalkan negerinya bersama istrinya Sarah dan keponakannya Luth . Beliau berkelana ke berbagai negeri seperti Mesir, Palestina, Suriah, hingga Mekkah.
  • Ujian istri kedua: Ketika nabi Ibrahim a.s dan istrinya Sarah berada di Mesir, mereka bertemu dengan raja Fir’aun yang terpesona oleh kecantikan Sarah. Raja Fir’aun ingin mengambil Sarah sebagai istrinya, tetapi Allah SWT melindungi Sarah dengan mengirimkan malaikat Jibril yang menampar raja Fir’aun setiap kali ia mendekati Sarah . Akhirnya, raja Fir’aun melepaskan Sarah dan memberinya seorang budak perempuan bernama Hajar sebagai hadiah . Sarah kemudian menyerahkan Hajar kepada nabi Ibrahim a.s sebagai istri keduanya .
  • Ujian anak: Ketika nabi Ibrahim a.s sudah tua dan belum memiliki anak, Allah SWT mengaruniakan beliau seorang anak laki-laki dari istrinya Hajar, yang bernama Ismail . Nabi Ibrahim a.s sangat bahagia dan bersyukur atas nikmat Allah SWT. Namun, Allah SWT kemudian memerintahkan beliau untuk mengorbankan anaknya Ismail sebagai ujian bagi keimanannya . Nabi Ibrahim a.s dan Ismail pun bersedia menaati perintah Allah SWT dengan penuh kesabaran dan ketawakalan . Namun, ketika nabi Ibrahim a.s hendak menyembelih Ismail, Allah SWT menggantikan Ismail dengan seekor domba yang disembelih sebagai kurban . Allah SWT pun memuji keikhlasan dan ketaatan nabi Ibrahim a.s dan Ismail, dan memberikan beliau seorang anak laki-laki lagi dari istrinya Sarah, yang bernama Ishaq.


  • Ujian pembangunan Ka’bah: Ketika nabi Ibrahim a.s dan Ismail sudah dewasa, Allah SWT memerintahkan mereka untuk membangun Ka’bah di Mekkah sebagai rumah ibadah pertama bagi umat manusia . Nabi Ibrahim a.s dan Ismail pun bekerja keras untuk mengumpulkan batu-batu dan menempatkannya sesuai dengan petunjuk Allah SWT . Setelah Ka’bah selesai dibangun, Allah SWT memerintahkan nabi Ibrahim a.s untuk menyeru manusia untuk datang berhaji ke Ka’bah . Nabi Ibrahim a.s pun menaati perintah Allah SWT dengan mengumandangkan azan yang didengar oleh seluruh makhluk di bumi dan langit . Sejak saat itu, Ka’bah 
  • menjadi tempat suci bagi umat islam yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan ibadah haji .
  • Ujian debat dengan kaumnya: Ketika nabi Ibrahim a.s kembali ke negerinya setelah membangun Ka’bah, beliau masih berusaha mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan penyembahan berhala-berhala. Namun, kaumnya tetap keras kepala dan tidak mau mendengarkan nasihat nabi Ibrahim a.s. Mereka bahkan mencela dan menghina nabi Ibrahim a.s dan Tuhan yang beliau sembah. Nabi Ibrahim a.s pun membantah mereka dengan argumentasi yang logis dan tegas. Beliau menunjukkan bahwa berhala-berhala itu tidak dapat memberi manfaat atau mudarat kepada siapa pun, sedangkan Allah SWT adalah pencipta dan pemberi rezeki bagi semua makhluk. Beliau juga menunjukkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang menguasai langit dan bumi, matahari dan bulan, bintang-bintang dan segala yang ada di antaranya. Beliau juga menantang mereka untuk membuktikan kekuatan tuhan-tuhan mereka jika mereka benar-benar yakin. Namun, kaumnya tidak dapat menjawab tantangan nabi Ibrahim a.s, bahkan mereka menjadi semakin marah dan sombong .

Wafatnya Nabi Ibrahim A.S

Nabi Ibrahim a.s wafat pada usia 175 tahun di negeri Palestina . Beliau dimakamkan di samping istrinya Sarah di gua makhpela di Hebron . Beliau meninggalkan keturunan yang mulia dari anak-anaknya Ismail dan Ishaq, yang menjadi nenek moyang para nabi dan rasul setelahnya. Di antara keturunan beliau adalah Nabi Musa a.s, Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s, Nabi Isa a.s, dan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Ibrahim a.s adalah teladan bagi umat Islam dalam hal keimanan, ketaatan, kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah SWT. Beliau juga disebut sebagai al-Khalil (kekasih) Allah SWT karena kedekatan dan kecintaannya kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “Dan (jadikanlah imam) juga dari keturunanku”. Allah berfirman: “Perjanjian-Ku tidak akan sampai kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah: 124)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya. (QS. An-Nisa’: 125)

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain dari Allah; kami ingkari kamu; dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian sampai selama-lamanya kamu beriman kepada Allah saja”. (QS. Al-Mumtahanah: 4)

 

Simaklah video berikut!


 

Beliau mulai menyatakan kebenaran tauhidnya di hadapan ayahnya dan kaumnya. Beliau menasehati mereka agar meninggalkan penyembahan berhala-berhala yang tidak dapat mendengar, melihat, atau bergerak. Beliau juga menantang Raja Namrud untuk membuktikan kekuasaannya sebagai tuhan. Namun, ayahnya dan kaumnya tidak mau mendengarkan nasihat nabi Ibrahim a.s, bahkan marah dan mengancamnya.

FIKIH: Sholat Fardhu Lima Waktu

  Shalat Fardhu Lima Waktu 1. Pengertian Shalat Fardhu Secara bahasa, shalat adalah berso’a atau doa meminta kebaikan. Pengertian ini selara...